IDW Minta Agar Kapolsek Dan Kanit Dicopot Terkait Penembakan 2 Warga Tidak Bersalah.

  • Bagikan
Korban ditembak cuma jarak dua meter.
Korban ditembak cuma jarak dua meter.
Korban ditembak cuma jarak dua meter.

frekuensimedia.com – Informasi yang diperoleh bahwasanya Satreskrim Polresta Medan bersama Petugas Polsek Helvetia dan Propam Polresta Medan,menggelar pra rekonstruksi penembakan terhadap 2 orang warga saat melakukan penggerebekan untuk menangkap pelaku kejahatan di Jalan Karya VII,Helvetia pada Senin (20/7) lalu.

Berdasarkan informasi yang diperoleh bahwasanya pra Rekontruksi ini sendiri digelar dilokasi kejadian dipimpin oleh Kasat Reskrim Polresta Medan, Kompol Aldi Subartono yang didampingi Kapolsek Helvetia Kompol Ronni Bonic.

Menurut keterangan yang diperoleh dalam pra rekontruksi itu,Kanit Intel Polsek Helvetia AKP Zulkifli Harahap yang melakukan penembakan diperankan oleh Kanit Reksrim Polsek Helvetia,AKP Hendrik Temaluru.lalu petugas juga memanggil keluarga korban Junaidi yaitu Rosmadiman dan suaminya Lindung Sitio.

Berdasarkan keterangan dalam hal ini petugas Provos mempersilahkan Rosmadiman menceritakan bagaimana awal penggerebekan hingga terjadinya tembakan yang mengenai keluarganya itu.

Sementara itu Rosmadiman menceritakan,kejadian ini berawal disaat petugas dari Polsek Helvetia berpakaian preman menangkap anaknya Agus Selamat Saragih dan keponakannya Hermanto dan Firdaus (DPO).Setelah menangkap,petugas lalu membawa masuk ketiga pelaku kedalam mobil.Pra rekontruksi yang dilakukan kurang lebih dari 15 adegan,dalam posisi tersebut ia berdiri dibelakang anaknya April didekat mobil petugas.Tak lama,AKP Zulkifli Harahap mengeluarkan senjata api dan menempelkannya dipipi anaknya,saat ditempelkan dipipi anakku itu,seketika itu adikku Junaidi yang tertembak dan mengenai serpihan proyektilnya kearah Anakku April Andreas,ungkapnya.

Ditambahkan lagi bahwasanya Ketua DPP IDW/Indonesia Democracy Watch,Maruli Tua Silaban,SH di Jakarta,melalui selulernya mengatakan penembakan tersebut dinilai bentuk suatu arogansi polisi,yang melakukan penggerebekan,seharusnya terlebih dahulu melakukan tembakan peringatan sebanyak 2 kali ke udara untuk membubarkan massa.

Dan ini sudah jelas bahwasanya Protap penembakan sudah dilanggar,bukannya langsung menembak warga seenaknya.Polisi ini harus disidang sesuai kode etik,ungkapnya.Merupakan suatu tindakan yang bersifat arogan,oleh karena itu kita minta kepada bapak Kapolda Sumut untuk serius menangani kasus ini.Kita juga meminta supaya Kapolsek Helvetia dan Kanit Intel Polsek Helvetia untuk dicopot karena lalai dalam menjalankan tugasnya,ucap Maruli ketika dikonfirmasi wartawan terkait masalah tersebut,Jumat (24/7).

Perlu diketahui bahwasanya Indonesia Democracy Watch, yang disingkat dengan IDW, didirikan di Jakarta pada tanggal 6 Oktober 2004.IDW digagas oleh sekelompok aktivis,akademisi dan profesional di akademisi dan profesional dibidang masing-masing dengan bidang masing-masing dengan latar belakang yang sangat variatif.Lahirnya IDW didasarkan pada kepedulian dan keprihatinan terhadap perkembangan dan dinamika yang terjadi ditengah tengah kehidupan masyarakat dalam bentuk ragam,dan permasalahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat sehari harinya,imbaunya.(David)

  • Bagikan