SUMUT  

Dinkes Sumut Sosialisasikan BP4 Dalam Uji Laboratorium Kasus TB.

Unit Pelaksana Tennis Dinas Kesehatan Sumut
Unit Pelaksana Tennis Dinas Kesehatan Sumut
Unit Pelaksana Tennis Dinas Kesehatan Sumut

frekuensimedia.com – Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Sumut kembali memperkenalkan Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi Sumatera Utara di Jalan Willem Iskandar Pasar V Barat 1 No.4,yang terdiri dari 7 UPT yang mempunyain peranan dalam menghadapi tantangan masalah TB kedepan masih besar.Terutama dengan adanya tantangan baru berupa perkembangan epidemi ganda TB-HIV dan merebaknya kasus-kasus resistensi terhadap obat anti tuberkuloisis (Multi Drugs Resistant – MDR-TB). Karenanya,perlu informasi dari penderita TB tentang pernah dan tidaknya mereka mendapat pengobatan TB sebelumnya.

“Inilah yang belum diperhatikan dan sering dilupakan oleh Rumah sakit apakah penderita TB sebelumnya pernah mendapat pengobatan.Kelihatannya sepele tapi menentukan,”kata Kepala Dinas Kesehatan Sumut,Bu Ninik Diaula Dinkes Sumut,Kamis (30/7).

Disampaikan Bu Ninik,peran Puskesmas,Rumah Sakit dan Balai Pengobatan Penyakit Paru-paru (BP4) masih sangat penting dalam Program pengendalian TB dan telah mencapai beberapa kemajuan.Salah satu inovasi yang dilakukan salah satunya dirumah sakit pemerintah baik dirumah sakit Adam Malik,maupun rumah sakit daerah lainnya yang dimana anggarannya telah diperhitungkan dan dianggarkan dalam anggaran APBD provinsi maupun kabupaten dan kotamadya dalam mempererat jejaring internal di Rumah sakit terutama pelayanan rawap inap dengan pelayanan unit lain.

Sementara itu dalam program BP4 itu sendiri oleh dinas kesehatan Sumatera Utara terhadap UPT dan Laboratorium,mempunyai strategi paradigma sehat :
1.Meningkatkan penyuluhan untuk menemukan kontak sedini mungkin,serta meningkatkan cakupan program.
2.Promosi kesehatan dalam rangka meningkatkan prilaku hidup sehat.
3.Perbaikan perumahan serta peningkatan status gizi,pada kondisi tertentu.

Strategi DOTS Sesuai dengan rekomendasi WHO,strategi DOTS terdiri atas 5 komponen :
1.Komitmen Politis dari para pengambil keputusan,termasuk dukungan dana.
2.Diagnosis TB dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis.
3.Pengobatan dengan paduan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) jangka pendek dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO). 4.Kesinambungan persediaan OAT jangka pendek untuk penderita.
5.Pencatatan dan pelaporan secara baku untuk memudahkan pemantauan dan evaluasi program penanggulangan TB.

Adapun Peningkatan mutu pelayanan :
1.Pelatihan seluruh tenaga pelaksana.
2.Ketepatan diagnosis TB dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopik.
3.Kualitas laboratorium diawasi melalui pemeriksaan uji silang (cross check).
4.Untuk menjaga kualitas pemeriksaan laboratorium, dibentuklah KPP (kelompok Puskesmas Pelaksana) terdiri dari satu PRM (Puskesmas Rujukan Mikroskopik) dan beberapa PS (Puskesmas Satelit).Untuk daerah dengan geografis sulit,dapat dibentuk PPM (Puskesmas Pelaksana Mandiri).
5.Ketersediaan OAT bagi semua penderita TB yang ditemukan.
6.Pengawasan kualitas OAT dilaksanakan secara berkala dan terus menerus.
7.Keteraturan menelan obat sehari-hari diawasi oleh Pengawas Menelan Obat (PMO). Keteraturan pengobatan tetap merupkan tanggung jawab petugas kesehatan.
8.Pencatatan dan pelaporan dilaksanakan dengan teratur, lengkap dan benar.

KEGIATAN :
1.Penemuan dan diagnosis penderita.
2.Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe tuberkulosis.
3.Pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung.
4.Pengobatan penderita dan pengawasan pengobatan.
5.Cross check sediaan dahak.
6.Penyuluhan tuberkulosis.
7.Pencatatan dan Pelaporan.
8.Supervisi.
9.Monitoring dan evaluasi.
10.Perencanaan.
11.Pengelolaan Logistik.
12. Pelatihan.
13. Penelitian.
(David)