Wednesday , 20 November 2019
Home / Berita Utama / Pendidikan Yang Berbasis Mutu Menjadi Tanggung Jawab Sekolah Tinggi Kristen Saat Ini

Pendidikan Yang Berbasis Mutu Menjadi Tanggung Jawab Sekolah Tinggi Kristen Saat Ini

Foto Bersama Prof. Dr. Thomas Pentury, M.Si
Guru Besar Bidang Ilmu Statisika Multivariat, Direktur Jendral Bimas Kristen Kementrian Agama RI, Plt. InspekturJendral Kementrian Agama RI, bersama dengan Ketua Umum STT SU Bapak Dr. Imanuel Munthe beserta seluruh jajaran Sekolah Tinggi Sumatera Utara, Sabtu 7 September 2019, 09. 30 Wib.

Frekuensi Media РKedatangan  Prof. Dr. Thomas Pentury, M.Si. Guru Besar Bidang Ilmu Statisika Multivariat, Direktur Jendral Bimas Kristen Kementrian Agama RI, Plt.InspekturJendral Kementrian Agama RI, dalam rangka penyempaian Kuliah Umum dengan thema Pendidikan Yang Berbasis Mutu. Bertempat di Aula STT Sumatera Utara, Sabtu 7 September 2019, 09. 30 Wib.

Kata sambutan dari STT SU diwakili oleh bapak Dr. Imanuel Munthe “Kita sangat bersukur dengan kedatangan bapak Prof. Dr. Thomas Penturi, M. Si. Terimakasih atas kedatangan bapak di kampus kami yang sederhana ini” demikian disampaikan oleh Ketua Umum Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara.

Dalam arahannya Bapak Prof. Dr. Thomas menyatakan perlunya lembaga dunia pendidikan Sekolah Tinggi Pendidikan Agama Kristen dapat berbenah sehingga dapat berdayaguna, krukulium yang ada harus berbasis mutu dan kuwalitas. Tidak hanya pendidikan keagamaan saja, tetapi juga harus melibatkan pendidikan sekuler lainnya guna pencapaian perubahan mengikuti Era Revolusi Industri 4. 0.

Mutu kuwalitas pendidikan Sekolah Tinggi Teologi harus dapat menjawab apa yang terjadi sesudah lulus, apa relevansinya kedepan? Apakah setelah kelulusan dapat berdaya guna bagi masyarakat? Maka daripada itu sudah seharusnya krukulium harus di revisi untuk mengikuti konsep masa kini, dengan pemisahan pengelolaan dunia pendidikan dengan pengolaan gereja.

Sebuah negara maju harus dapat menghargai kemajemukan, dan nilai tersebut harus dikembangkan di dunia pendidikan Kristen secara khusus di Sekolah Tinggi Teologi.

Dalam Kuliah Umumnya beliau juga menyampaikan kemajemukan yang ada di dunia Kristen di Indonesia ini, dimana masing-masing STT yang ada hanya mengikuti doktrin gerejanya semata sehingga dalam penerapannya menimbulkan perbedaan-perbedaan, untuk menyikapinya adalah bagaimana kita dapat menyatukan diri dengan membentuk gereja yang Okumenis, bila hal tersebut dilakukan maka kejadian seperti persekusi Ibadah di Riau tidak terjadi lagi.

Menurut pandangan beliau kejadian di Riau adalah pembawaan dari dogma Kristen yang kaku dan memisahkan diri dengan dogma lainnya, sehingga dalam penerapanya persentase masyarakat atau jemaat yang sedikit pun harus mendirikan gereja atau jemat baru di rumah si Pendeta, hal itu dipicu karena perbedaan doktrinnya.

“Menyikapi mengenai kejadian di Riau yang kita sesalkan adalah pembubaran dalam proses ibadah, tapi bila terkait dengan pendirian jemaat baru atau gereja baru di dalam komunitas masyarakat yang sedikit sudah sepatutnya kita mulai berpikir bagaimana membuat Gereja yang Okumenis sehingga dapat menjangkau semua aliran dan dogma sehingga terjadi ketertiban di daerah tertentu” lanjutnya.

Semua di era digital ini sudah serba instan dan cepat baik dalam kehidupan termasuk di dunia pendidikan, perlunya tenaga pengajar harus mengikuti pola modren dalam penyampaian materinya, walaupun demikian yang tidak bisa berubah adalah prilaku, watak dan sikap karena itu adalah jati diri anda sendiri.

Kuwalitas atau mutu harus semakin ditingkatkan guna mencipkatakan mahasisiwa yang berkarakter. UU No. 12 Tahun 2012 harus menjadi pedoman dan pondasi dunia lembaga pendidikan yang terpisah dari kepentingan Gereja.

Dosen harus memiliki gelar akedemik S 2 dan memiliki jabatan dalam Sekolah tersebut, tekanan itu kian ditingkatkan ke depan dimana Dosen harus S 3 baru dapat mengajar. Perlu juga di ingat setiap tenaga didik harus memiliki etika dan wawasan Okumene serta menghargai kemajemukan yang ada.

Penerapan PP No. 46 Tahun 2019 tentang Pendidikan Tinggi Keagamaan sudah sebuah keharusan, dimana sekolah Tinggi Keagamaan tidak hanya mengajarkan rumpun pendidikan keagamaan saja akan tetapi dapat mengambil displin ilmu lainnya yang bermanfaat dan berdaya guna bagi masyarakat.

Bila kita mau bertransformasi di Lembaga Tinggi Pendidikan Kristen maka kita harus tau apa kelemahan kita sehingga kita dapat memperbaikinya, jangan berkutat dengan pola yang ada (lama) akan tetapi harus berbenah mengikuti kebutuhan saat ini.

Menutup paparannya beliau mengutip Firman Tuhan dari Klose 3:23 “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan, bukan untuk manusia” tutupnya. (FM)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

6 + 3 =