Monday , 21 September 2020
Home / Nasional / Aktivis Penolakan Penambangan Pasir di Lumajang Dibantai Di Balai Desa Brutal,Biadab dan Sadisme,Proteksi Dini Intelijen Gagal..!

Aktivis Penolakan Penambangan Pasir di Lumajang Dibantai Di Balai Desa Brutal,Biadab dan Sadisme,Proteksi Dini Intelijen Gagal..!

Sadisnya penyiksaan dan pembunuhan aktivis di Lumajang
Sadisnya penyiksaan dan pembunuhan aktivis di Lumajang

 

17 Tersangka Kasus Lumajang Tiba di Polda Jatim.
17 Tersangka Kasus Lumajang Tiba di Polda Jatim.

frekuensimedia.com – Salim alias Kancil dan Tosan Aktivis Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Desa Selok Awar-awar (FKMPDSA).Dikeroyok puluhan preman dengan brutal dan sadis hingga tewas mengenaskan,karena sikapnya yang menolak penambangan pasir di Lumajang, Jawa Timur. Bahkan Kancil harus merenggang nyawa karena aksi sadis puluhan preman itu. Sementara Tosan dirawat intensif di RS dengan luka disekujur tubuhnya.

Sebelum kejadian yang menimpa korban anggota perwakilan FKMPDSA melaporkan kejadian tindak pidana pengancaman Ke Polres Lumajang. Kala itu mereka ditemui oleh Kasat Reskrim Polres Lumajang, AKP Heri Sugiono. Pada saat itu AKP Heru menjamin dan akan merespon pengaduan FKMPDSA dan mengkoordinasikan dengan pimpinan Polsek Pasirian.

Kepolisian Resor Lumajang menetapkan Kepala Desa Selok Awar-awar Hariyono sebagai tersangka kasus tambang pasir ilegal di Pantai Watu Pecak, Desa Selok Awar-awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Namun, polisi belum menjelaskan peran Hariyono dalam kasus tambang ilegal ini.

“Kepala Desa Hariyono mulai tadi malam sudah kami tetapkan sebagai tersangka dan saat ini sudah kami lakukan penahanan,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Lumajang Ajun Komisaris Heri Sugiono, Rabu siang, 30 September 2015.

Heri mengatakan tersangka dijerat Pasal 158 sub-Pasal 161 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batu Bara dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara dan denda Rp 10 miliar. “Pertambangannya ilegal,” kata Heri. Terkait dengan kasus illegal mining ini, kata Heri, polisi telah melakukan penyitaan tiga alat berat beserta bukti-bukti penarikan portal pasir.

Untuk alat berat pertama disita di penambangan dan dua lainnya berada di sekitar tambang. “Operator alat sudah menjadi tersangka di kasus sebelumnya,” kata dia. Namun, Heri enggan menjelaskan apa peran Hariyono dalam pertambangan itu.(Kontra)